Bermula dari Kasus BLBI

20Aug08

Setelah lama “bungkam” Agus Condro bersedia buka kartu menyusul pengakuannya menerima uang Rp500 Juta terkait pemilihan Deputi Senior Gubernur BI. Berikut perbincangan langsung Jumal Nasional dengan Agus Condro melalui telepon selulernya, Selasa (19/8) siang.

Apa latar belakang Anda membuka kasus ini ke publik?

Latar belakang saya bicara masalah uang Rp5OO juta itu, bermula ketika diperiksa KPK sebagai saksi atas penyelesaian kasus aliran dana BLBI atau amandemen BI. Saat itu, saya ditanya apakah pernah menerima dana terkait kasus tersebut? Karena merasa tidak pernah menerima, maka saya menjawab tidak pernah. Tetapi kemudian saya bilang kalau yang lain saya pernah menerima. Yaitu uang sebanyak Rp25 juta yang diserahkan oleh Hamka Yandhu tahun 2003 yang katanya sebagai dana “selamat datang”.

Lalu, dua atau bga minggu setelah penentuan Miranda Goeltom sebagai Deputi Senior BI, saya kembali menerima duit. Tetapi dari Pak Dudhle. Lalu, ditanya KPK berapa besarnya? Rp25 juta? Saya jawab lebih besar, Rp5OO juta. Tetapi, kemudian uang itu saya jadikan macam-macam. Sebagian ada yang saya belikan mobil, dua buah. Lalu ada yang dijadikan modal usaha, tapi sekarang sudah bangkrut. Mungkin karena uangnya gak jelas dari mana makanya gak bisa lancar usahanya.

Uang itu sudah dikembalikan?

Yang Rp25 juta sudah saya kembalikan melalui KPK. Waktu itu kan masuk dalam proses penyitaan barang. Jadi ada dua tahap, yakni 4 Juli dan 8 Juli. Tetapi, ketika saya berikan kedua mobil, pihak KPK malah mengembalikan. Mereka bilang, mobilnya dibawa pulang saja dulu, BPKP-nya dan STNK ditinggal, tetapi Jangan dijual kalau-kalau nanti dibutuhkan untuk mendukung pemeriksaan. Ya saya ikut saja, Jadi mobilnya saya bawa pulang dan sampai sekarang memang belum saya kembalikan. Sedangkan yang uang lainnya, kalau memang harusdikembalikan ya silakan saja, saya masih banyak barang-barang di Jakarta yang bisa disita. Silakan saja. Saya tidak akan menahan-nahan.

Setelah pengakuan itu, apa ada perubahan sikap dari rekan-rekan satu partai yang namanya Anda sebut?

Ah, enggak. Mereka tetap biasa-biasa saja kok. Gak ada yang menekan atau memusuhi saya. Mereka Justru bangga (dengan keputusan saya). Karena, PDIP itu kan lahir dengan dasar reformasi yang salah satu napasnya adalah memberantas KKN. Lalu, mengapa harus dibenci. Sebaliknya banyak yang mendukung saya untuk mengembalikan saja uang-uang itu, tetapi ada juga yang bilang agar saya tidak banyak bicara. Yah, pendapat kan tidak harus seragam, kalau seragam itu sifat Orde Baru. Yang pasti, PDIP itu partai perjuangan, bukan partai koruptor.

Anda siap diperiksa lebih lanjut oleh KPK?

Ya siap. Wong maling ayam yang harganya cuma RplOO ribu saja harus diproses hukum, padahal itu untuk memberi makan anak-istrinya. Apalagi orang yang menerima uang sampai RpSOO juta. Saya siap diproses hukum.

Bagaimana keluarga melihat kasus Ini?

Istri saya cuma bilang, ya sudah dikembalikan saja uang-uangnya. Kalau nanti toh dikucilkan orang ya gak masalah. Wong, orang kecil saja masih bisa makan, masak kita gak bisa makan. Serahkan saja pada Yang Kuasa.

Jan Prince Permata/ Suci Dian Hayati

Sumber: Jurnal Nasional, 20-08-2008

Advertisements


No Responses Yet to “Bermula dari Kasus BLBI”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: