Antony Saya Diperas Pejabat BPK Rp 500 Juta

21Aug08

Mantan anggota DPR Komisi IX Antony Zeidra Abidin mengaku pernah diperas Rp 500 juta oleh dua pejabat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Baharuddin Aritonang dan Abdullah Zaini. Permintaan uang itu terkait kasus dugaan aliran dana BI Rp 31,5 miliar ke DPR.

Pernyataan tersebut disampaikan tersangka penerima aliran dana Bank Indonesia (EQ Antony Zeidra Abidin dalam kesaksiannya di Pengadilan Tindak Pidann Korupsi (Tipikor), Rabu (20/8).

Kedua pejabat BPK itu pernah juga sebagai anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004 yang disebut-sebut ikut menerima aliran dana BI. Saat ini. Abdullah Zaini menjabat sebagai wakil ketua BPK dan Aritonang sebagai anggota.

“Di BPK itu juga banyak teman-teman saya mantan anggota Komisi IX, di antaranya ada juga yang memeras saya, Pak Aritonang dan Abdullah Zaini,” ujar Antony dalam sidang yang dipimpin hakim Tipikor Gusrizal itu.

Menurut Antony, BPK berkali-kali memanggilnya terkait temuan BPK tentang aliran dana BI. Antony mengaku ditanyai seputar jumlah dana yang mengalir tidak sesuai dengan temuan BPK

“Aritonang sempat bilang biar saja Antony yang datang sendiri, biar dipenjara sekalian, kan dia yang makan uang itu sendiri,” tambahnya.

Dalam setiap pemeriksaan di KPK, Antony selalu membantah mengenai aliran dana tersebut, kerena memang tidak sesuai dengan apa yang terjadi.

Menurut Antony, dua pejabat tersebut mengira uang sebesar Rp 31,5 miliar yang diterima Komisi K DPR dari BI, hanya untuk Antony sendiri. Padahal, uang tersebut mengalir ke sejumlah anggota lainnya.

“Uang itu banyak sekali. Kenapa dimakan sendiri. Kenapa nggak dibagi-bagi?” kata Antony mengutip pernyataan Baharuddin saat menghubungi-nya tahun 2006.

Akhirnya, lanjut Antony, kedua orang itu mengajak dia bertemu di salah satu restoran di Gedung Summit Mas, Sudirman. “Dari pertemuan tersebut, yang meminta uang hanya Baharuddin sebesar Rp 500 juta,” kata Antony.

Namun permintaan itu tak dikabulkan Antony dengan alasan tidak punya uang. “Sebagai wakil gubernur Jambi, gaji saya cuma Rp 6,5 juta. Dari muna uang sebanyak itu,” kata Antony beralasan.

Sejak 1970

Sementara itu, dalam kesaksiannya, mantan Kepala Biro Gubernur BI Rusli Simanjuntak mengungkapkan, BI sudah punya tradisi mengalirkan dana kepada sejumlah anggota DPR sejak tahun 1970. Pemberian uang kepada anggota DPR tidak pernah pakai tanda terima.

Rusli mengakui, kebiasaan mengalirkan dana ke DPR itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Dia memprediksi, jika kasus aliran dana BI tidak terungkap, kebiasaan itu mungkin masih terus berlanjut.

“Pemberian dana itu berlangsung sejak kira-kira tahun 1970-an.” kata Rusli

Namun dalam kesaksiannya. Rush tidak merinci aliran uang ke DPR sejak 1970-an itu merupakan inisiatif BI atau atas permintaan DPR.

Dalam sidang yang dipimpin hakim Hendra Yospin itu, Rusli mengungkapkan, memang ada perlakuan khusus BI terhadap anggota DPR menyangkut pemberian uang. Biasanya. BI selalu meminta tanda terima setiap ada pengeluaran uang, baik kepada yayasan atau panti asuhan.

Advertisements


No Responses Yet to “Antony Saya Diperas Pejabat BPK Rp 500 Juta”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: