Mantan Sekjen Deplu Terima Uang

31Aug08

Uang itu sebagai hadiah karena Sudjadnan menyetujui usulan Anggaran Belanja Tambahan (ABT).

Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Sudjadnan Parnohadiningrat, ternyata pernah menerima uang sebesar 200 ribu dolar AS atau sekitar Rp 1,8 miliar dari mantan duta besar Indonesia untuk Singapura, Mochamad Slamet Hidayat. Uang tersebut diterima Sudjadnan semasa menjabat sebagai sekretaris jenderal Departemen Luar Negeri pada 2003-2004. Hal itu terungkap dalam surat dakwaan tim Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menangani kasus dugaan korupsi pelaksanaan perbaikan gedung kantor KBRI dan rumah dinas KBRI di Singapura.

Kasus tersebut menjadikan Slamet Hidayat dan Erizal sebagai terdakwa. Erizal adalah mantan kepala Bagian Tata Usaha atau bendahara KBRI Singapura. Dalam dakwaan subsidernya, tim jaksa yang diketuai Suwarji menjabarkan, Sudjadnan menerima uang dari Slamet Hidayat dalam kurun waktu Agustus 2003 sampai September 2004. Uang itu sebagai hadiah karena Sudjadnan menyetujui usulan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) untuk perbaikan gedung kantor dan rumah dinas KBRI Singapura.

Jaksa menuturkan, pada Agustus 2003, Slamet Hidayat berencana akan melakukan perbaikan gedung kantor dan rumah dinas KBRI Singapura. Slamet meminta Erizal agar membuat usulan ABT kepada sekjen Deplu yang saat itu dijabat Sudjadnan. Slamet kemudian memerintahkan Erizal dan Eddi Suryanto, staf KBRI,untuk menemui Sudjadnan di Jakarta agar dapat menyetujui ABT tersebut. Sudjadnan pun menyanggupi untuk menyetujui usulan ABT.

Pada 13 Oktober 2003, Slamet Hidayat menerima kabar dari Staf Biro Keuangan Deplu, Sutami, yang melaporkan bahwa usulan ABT senilai Rp 16,4 miliar tersebut telah disetujui. Atas laporan tersebut, Slamet Hidayat meminta Erizal agar menyisakan dana sebesar satu juta dolar Singapura dari biaya perbaikan gedung. “Untuk keperluan dana dalam pengurusan usulan ABT,” ujar jaksa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (27/8).

Pada November 2003, Slamet menelepon Sudjadnan dan akan menyiapkan dana 200 ribu dolar AS atau senilai Rp 1,8 miliar untuk Sudjadnan karena menyetujui usulan ABT. Selanjutnya, setelah menyelesaikan perbaikan gedung pada bulan April 2004, Slamet Hidayat memerintahkan Erizal untuk memberikan uang 100 ribu dolar AS kepada Sudjadnan di Hotel Four Season Singapura. Adapun sisa uang 100 ribu dolar AS yang dijanjikan sebelumnya diberikan Slamet secara bertahap, antara Juni 2004 sampai bulan Maret 2006.

Atas perbuatan Slamet Hidayat dan Erizal, jaksa menjerat keduanya dengan pasal pemberian hadiah kepada pejabat negara dengan ancaman pidana maksimal tiga tahun penjara dan denda Rp 150 juta. Kendati demikian, sebelum menjerat dengan pasal pemberian hadiah, jaksa lebih dulu menjerat kedua terdakwa dengan pasal memperkaya diri sendiri atau orang lain atau koorporasi dalam dakwaan primernya. Jaksa menyebutkan, Slamet Hidayat dan Erizal telah melaksanakan perbaikan gedung kantor dan rumah dinas KBRI Singapura tanpa mendasarkan pada prosedur dan aturan yang berlaku. ade

Sumber: Republika, 28-08-2008

Advertisements


No Responses Yet to “Mantan Sekjen Deplu Terima Uang”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: